Inflasi Kota Kediri September 2026 Capai 0,41 Persen, Pendidikan Jadi Penyumbang Utama


Kediri, gelarfakta.com – Badan Pusat Statistik (BPS) bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Kediri menyampaikan perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) dan inflasi Kota Kediri September 2026 melalui Press Release Berita Resmi Statistik yang digelar secara daring, Kamis (1/10/2026).
Kepala BPS Kota Kediri Emil Wahyudiono mengatakan, pada September 2026 Kota Kediri mengalami inflasi bulanan atau month-to-month (m-to-m) sebesar 0,41 persen. Sementara itu, inflasi tahunan atau year-on-year (y-on-y) tercatat sebesar 3,38 persen.
Kelompok pendidikan menjadi penyumbang utama inflasi bulanan pada September dengan andil sebesar 0,19 persen.
Sejumlah komoditas juga memberikan andil terhadap inflasi bulanan. Akademi/perguruan tinggi memberikan andil 0,19 persen, cabai rawit 0,12 persen, daging ayam ras 0,09 persen, telur ayam ras 0,05 persen, beras dan jeruk masing-masing 0,03 persen, angkutan udara dan bayam masing-masing 0,02 persen, serta jagung manis dan daging sapi masing-masing 0,01 persen.
Di sisi lain, beberapa komoditas mengalami deflasi sehingga menahan laju inflasi. Emas perhiasan dan alpukat masing-masing mengalami deflasi sebesar -0,04 persen, kacang panjang dan semangka -0,03 persen, cabai merah, bawang merah, pir, bawang putih, dan ketimun masing-masing -0,02 persen, serta ikan bandeng atau ikan bolu -0,01 persen.
Dalam pemaparan tersebut, BPS Kota Kediri juga menyampaikan sejumlah kondisi yang perlu diwaspadai karena berpotensi memengaruhi harga komoditas pada Oktober 2026.
Salah satunya terkait ketersediaan stok dan distribusi beras, daging ayam ras, telur ayam ras, serta komoditas pangan lainnya yang dipengaruhi permintaan konsumen. Selain itu, berdasarkan keterangan BMKG, El Nino sangat kuat diprediksi berlangsung hingga awal 2027 dan berpotensi menyebabkan tertundanya awal musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Penyesuaian tarif BBM nonsubsidi yang masih berlangsung juga dinilai berpotensi menimbulkan efek domino terhadap harga komoditas lainnya.
Emil mengimbau masyarakat Kota Kediri tetap bijak dalam berbelanja dan merencanakan pengeluaran rumah tangga, terutama dalam menghadapi potensi kenaikan harga sejumlah komoditas pada Oktober 2026.
Sementara itu, Kepala Bagian Administrasi Perekonomian selaku Sekretaris TPID Kota Kediri Noviana Rachmawati mengatakan, perkembangan inflasi tersebut perlu dievaluasi, termasuk untuk melihat dampak tarif akademi/perguruan tinggi terhadap perekonomian Kota Kediri.
Selain itu, perlu dipantau apakah tekanan harga komoditas pangan telah melandai atau masih berlanjut akibat faktor musiman, pola distribusi, serta penyesuaian harga di tingkat grosir maupun eceran.
Menurut Noviana, pergerakan harga pada September menjadi salah satu acuan dalam pemetaan risiko inflasi menjelang kuartal akhir 2026. TPID Kota Kediri terus mengoptimalkan sinergi lintas sektor melalui strategi menjaga 4K, yakni Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif.
Pada September, TPID Kota Kediri menggelar Gerakan Pangan Murah dalam rangkaian kegiatan Syiar di Balai Kota Kediri. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai salah satu upaya menjaga keterjangkauan harga.
Selain itu, penyaluran bantuan pangan oleh Bulog diharapkan dapat mengurangi permintaan, terutama terhadap komoditas beras di Kota Kediri.
Dalam aspek kelancaran distribusi, terdapat sarana terminal bongkar muat barang yang dapat digunakan untuk mengurangi kemacetan akibat penumpukan truk muatan pada simpul-simpul kegiatan ekonomi.
Menyikapi kondisi ke depan, Noviana mengimbau masyarakat mengatur kebutuhan sehari-hari secara bijak. Sementara itu, para pedagang diharapkan tetap menyediakan kebutuhan pokok agar harga dapat terjaga.
Noviana juga mengimbau masyarakat tidak melakukan panic buying. Menurutnya, pemerintah terus berupaya menjaga ketersediaan pasokan berbagai komoditas dan kestabilan harga agar roda perekonomian di Kota Kediri tetap berjalan.(*/pty/kur)



