Ponpes Wali Barokah Perkuat SDM Tangguh Hadapi Disrupsi Teknologi di Munas X LDII


Jakarta, gelarfakta.com – Pondok Pesantren Wali Barokah Kota Kediri menegaskan komitmennya dalam membangun sumber daya manusia (SDM) yang tangguh dan berkarakter guna menghadapi tantangan global. Hal ini disampaikan menyusul pembekalan dari Warsito dalam Musyawarah Nasional (Munas) X LDII 2026, Kamis (9/4).
Dalam paparannya, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Pendidikan dan Transformasi Ekonomi Kemenko PMK RI itu menekankan pentingnya stabilitas dan resiliensi bangsa di tengah disrupsi teknologi seperti Artificial Intelligence (AI) serta dinamika geopolitik global.
“Karakter dan jati diri bangsa adalah pilar utama. Kita harus memiliki kemampuan untuk bertahan menghadapi guncangan, beradaptasi dengan perubahan, dan bangkit kembali,” ujarnya.
Ia menjelaskan, terdapat lima ekosistem kunci dalam membangun SDM unggul, yakni keluarga, masyarakat, institusi pendidikan, tempat ibadah, dan ruang digital. Menurutnya, teknologi harus dimanfaatkan sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas, bukan menggantikan peran manusia.
“Teknologi adalah alat, bukan pengganti manusia. Yang menentukan tetap manusia itu sendiri, bagaimana kita menguasai dan memanfaatkannya,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya membangun resiliensi manusia dan budaya yang ditopang oleh karakter kuat, identitas budaya kokoh, serta literasi digital yang baik. Hal ini dinilai menjadi fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Ponpes Wali Barokah, Agung Riyanto, menegaskan bahwa pesantren memiliki peran strategis dalam menerjemahkan visi tersebut melalui pendidikan karakter yang aplikatif.
“Kami di Ponpes Wali Barokah menyadari bahwa resiliensi bukan sekadar bertahan, tapi bagaimana santri mampu beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Fokus kami adalah memastikan para santri memiliki kemandirian dan integritas yang kuat,” ungkapnya.
Ia menilai materi pembekalan tersebut sangat relevan dengan kebutuhan pembinaan santri di era modern, khususnya dalam menghadapi perubahan teknologi dan sosial.
Senada, Sekretaris Ponpes Wali Barokah, Daud Soleh, menekankan pentingnya penguasaan literasi digital dan etika teknologi bagi santri.
“Sebagaimana disampaikan Prof. Warsito mengenai tantangan digital, Ponpes Wali Barokah terus berupaya menyeimbangkan antara pendidikan agama yang kuat dengan literasi teknologi,” ujarnya.
Ia menambahkan, pesantren juga membekali santri dengan etika digital (digital citizenship) agar mampu menyaring informasi hoaks serta terhindar dari paham radikalisme.
“Teknologi adalah alat, bukan pengganti peran manusia. Kami mendidik santri agar tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki etika dalam bermedia digital,” imbuhnya.
Menurutnya, resiliensi yang dibangun di lingkungan pesantren tidak hanya sebatas kemampuan bertahan, tetapi juga kemampuan beradaptasi dan bangkit di tengah perubahan global tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman.
“Di Ponpes Wali Barokah, kami mendorong santri memiliki akhlak yang kuat, literasi digital yang baik, serta kesiapan menghadapi tantangan global,” jelasnya.
Melalui pembekalan ini, Ponpes Wali Barokah optimistis dapat terus berkontribusi dalam mencetak generasi unggul yang religius, adaptif, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.(*/pty/kur)



