Duta GenRe Kota Kediri Dibekali Keterampilan Jadi Pendidik dan Konselor Sebaya


Kediri, gelarfakta.com – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Kediri menggelar Pelatihan Pendidik Sebaya bagi Duta Generasi Berencana (GenRe) Kota Kediri, Senin (28/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Aula Kantor DP3AP2KB tersebut bertujuan mengoptimalkan peran Duta GenRe sebagai penggerak bagi remaja untuk menjalani kehidupan yang sehat, berencana, dan berkarakter. Peserta mendapatkan materi dari konselor Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Forum GenRe.
Kepala DP3AP2KB Kota Kediri, dr. Muhammad Fajri Mubasysyir, mengatakan pelatihan tersebut menjadi sarana untuk membekali Duta GenRe dengan pengetahuan dan keterampilan sebagai pendidik maupun konselor sebaya.
Mereka diharapkan dapat menjadi ruang berdiskusi sekaligus tempat bagi remaja untuk menyampaikan persoalan yang dihadapi kepada teman sebaya.
Fajri menjelaskan, Duta GenRe memiliki sejumlah peran, antara lain sebagai konselor sebaya dan role model, menyosialisasikan Program GenRe, memberikan edukasi mengenai lima transisi kehidupan remaja, serta menjadi jembatan komunikasi dan advokasi.
Menurutnya, peran Duta GenRe penting karena remaja pada umumnya merasa lebih percaya dan nyaman ketika menyampaikan cerita atau persoalan kepada teman sebaya.
“Duta GenRe sangat membantu Pemerintah Kota Kediri dalam memberikan edukasi kepada remaja. Mereka secara rutin melakukan safari ke sekolah-sekolah di Kota Kediri, sedangkan DP3AP2KB bertugas mendampingi. Adapun materi yang mereka deliver ke teman sebayanya terkait: pengenalan diri, perencanaan hidup, kekerasan seksual, bahaya narkotika, serta berbagai persoalan yang dihadapi remaja,” jelasnya.
Ia berharap pelatihan tersebut dapat meningkatkan kepercayaan diri para peserta ketika memberikan edukasi kepada teman sebaya.
“Harapan kami para adik-adik Duta GenRe semakin percaya diri dalam melakukan sosialisasi kepada rekan sebaya dan menjadi agen perubahan di sekolahnya,” ungkapnya.
Sementara itu, Putri, konselor BKKBN yang menjadi narasumber, menyampaikan materi mengenai Pendidik Sebaya (PS) dan Konselor Sebaya (KS).
Setelah mengikuti pelatihan, peserta diharapkan dapat melakukan pemetaan di sekolah masing-masing, termasuk mempersiapkan pembentukan piket bagi sekolah yang belum memilikinya.
“Bagi yang sudah ada, bisa melakukan pemetaan untuk memilih siapa yang akan menjadi Pendidik Sebaya dan Konselor Sebaya,” jelasnya.
Putri menerangkan, Pendidik Sebaya perlu memiliki bekal informasi yang memadai untuk kemudian disampaikan kepada remaja lainnya melalui kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE). Informasi tersebut bersumber dari modul yang telah disesuaikan dengan rentang usia remaja.
Sementara itu, Konselor Sebaya memiliki kompetensi yang berbeda. Mereka diharapkan mampu menjadi tempat awal bagi teman sebaya yang membutuhkan ruang untuk bercerita maupun berdiskusi. Namun, peran tersebut tidak untuk menggantikan fungsi guru BK maupun psikolog.
Selain pengetahuan, peserta juga dibekali keterampilan menjadi pendengar aktif, membangun empati, berkomunikasi dengan baik, serta memahami pentingnya menjaga kerahasiaan teman yang telah bercerita.
“Pesan saya kepada mereka agar tetap produktif menyebarkan ilmu kepada sesama dan pastikan ilmu yang disampaikan valid,” pesan Putri.
Salah satu peserta, Samuel Panji, Duta GenRe Kota Kediri Tahun 2024 dari SMKN 1 Kota Kediri, mengatakan tertarik mengikuti kegiatan tersebut karena menjadi wadah bagi remaja untuk mengasah kemampuan public speaking, memperluas relasi, dan mengikuti berbagai kegiatan positif.
Melalui pelatihan tersebut, Samuel mendapatkan pengetahuan baru mengenai peran konselor dan pendidik sebaya, termasuk cara merespons ketika ada teman yang bercerita. Ia juga memperoleh materi mengenai cara duduk, gesture, dan nada bicara ketika berkomunikasi.
Menurut Samuel, salah satu tantangan dalam memberikan edukasi kepada teman sebaya adalah memahami latar belakang audiens yang beragam. Karena itu, seorang Duta GenRe perlu memiliki empati dan mampu menempatkan diri dari sudut pandang audiens.
“Intinya saya harus belajar lebih empati,” tuturnya.
Dalam memberikan sosialisasi, Samuel lebih memilih metode diskusi agar komunikasi yang terbangun berlangsung dua arah. Dengan cara tersebut, remaja yang menjadi audiens tidak merasa sedang digurui.
“Saya biasanya memberikan sosialisasi dalam bentuk diskusi. Saya bercerita, mereka juga bercerita, jadi terbangun komunikasi dua arah sehingga audiens tidak merasa digurui,” jelasnya.
Ke depan, Samuel berharap peran Duta GenRe dapat semakin luas. Tidak hanya menjangkau sekolah-sekolah di Kota Kediri, tetapi juga hingga tingkat kecamatan dan kelurahan/desa serta sekolah yang selama ini belum banyak mendapatkan edukasi.
“Kami sangat berharap ingin kolaborasi dengan kota lain untuk sosialisasi di tempat lain yang jarang kita kasih materi, mungkin sekolah di daerah pelosok,” pungkasnya.(*/pty/kur)



