11 Tahun Kelola Sampah, Bank Sampah Berseri Burengan Jadi Contoh Pengolahan Sampah Bernilai


Kediri, gelarfakta.com – Bank Sampah Berseri di Kelurahan Burengan, Kota Kediri, konsisten mengelola sampah selama 11 tahun. Kegiatan tersebut tidak hanya dilakukan untuk mengurangi timbulan sampah, tetapi juga mengolahnya menjadi berbagai produk yang memiliki nilai guna dan ekonomi.
Konsistensi Bank Sampah Berseri mendapat apresiasi dari Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati saat berkunjung ke lokasi, Senin (28/9/2026).
Dalam kunjungannya, Vinanda berdialog dengan pengelola mengenai proses pengelolaan sampah, mulai dari pemilahan hingga pengolahan sampah organik dan anorganik. Ia juga mengapresiasi kesadaran warga yang telah terbiasa memilah sampah.
“Saya mengapresiasi karena bank sampah ini sudah 11 tahun. Mayoritas masyarakat di sini juga sudah memiliki kesadaran dalam melakukan pemilahan sampah. Saya lihat bank sampah ini sudah menghasilkan produk, baik dari sampah organik maupun anorganik,” ujarnya.
Vinanda berharap Bank Sampah Berseri dapat menjadi contoh bagi bank sampah lainnya di Kota Kediri. Menurutnya, produk yang dihasilkan memiliki keunikan karena berasal dari pengolahan sampah sekaligus memiliki nilai ekonomi.
“Masalah sampah ini menjadi tanggung jawab bersama. Pemerintah mungkin memiliki alat yang canggih, tetapi kalau dari hulunya sampah belum dipilah dan diolah, tentu akan sulit. Karena itu, kami juga membutuhkan dukungan masyarakat,” jelasnya.
Di Bank Sampah Berseri, sampah organik diolah menjadi eco enzyme dan pupuk organik cair (POC). Hasil pengolahan tersebut saat ini dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar.
Vinanda berharap keterampilan pengolahan sampah organik tersebut dapat ditularkan kepada warga untuk mendukung kegiatan menanam sayuran maupun buah-buahan di sekitar rumah. Dengan demikian, lingkungan RW 5 Kelurahan Burengan dapat semakin asri.
Sementara itu, sampah anorganik dimanfaatkan menjadi berbagai produk kerajinan, seperti tas belanja, aksesori, kotak tabungan, kaos tie dye, dan produk lainnya.
Ketua Bank Sampah Berseri, Nunuk, menuturkan bank sampah tersebut berdiri sejak 2015. Nama Berseri merupakan singkatan dari bersih, sehat, rapi, dan indah.
Pada awal berdiri, kegiatan tersebut ditujukan untuk menjaga lingkungan RW 5 sekaligus memberikan edukasi kepada warga agar tidak membuang sampah sembarangan.
“Awalnya memang ada pro dan kontra karena sampah identik dengan kotor dan bau. Namun, melalui edukasi secara perlahan, termasuk lewat PKK, masyarakat akhirnya menerima dan sampai sekarang Bank Sampah Berseri tetap berjalan,” tutur Nunuk.
Salah satu produk unggulan Bank Sampah Berseri adalah kaos tie dye yang dibuat dari pakaian bekas. Nunuk mempelajari teknik tersebut secara otodidak melalui YouTube. Pakaian yang sebelumnya hanya dimanfaatkan sebagai keset kemudian diolah menjadi produk bernilai guna dan digunakan warga dari berbagai kalangan.
“Alhamdulillah, kami juga pernah meraih juara tingkat Pratama se-Jawa Timur serta bekerja sama dengan ITS dan Heriot-Watt University. Bagi kami, semangatnya adalah BCA (Bank Cicilan Akhirat). Apa yang kami lakukan kami niatkan sebagai amal, dari sampah menjadi berkah,” pungkasnya.(*/pty/kur)



