Kekhawatiran Penggunaan Media Sosial pada Anak Mencuat di Forum DPRD Jatim di Kediri


Kediri, gelarfakta.com – Diskusi bertajuk “Memperkuat Ukhuwah” yang digelar DPRD Provinsi Jawa Timur di Kantor DPD Partai Golkar Kabupaten Kediri, Jalan Pamenang, Kecamatan Ngasem, Senin (30/3/2026), berkembang menjadi forum serius yang menyoroti dampak penggunaan media sosial pada anak usia dini.
Kegiatan yang semula bernuansa silaturahmi ini justru memunculkan kekhawatiran dari berbagai kalangan, khususnya guru dan orang tua, terkait penggunaan gawai yang semakin sulit dikendalikan di kalangan anak-anak.
Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, M. Hadi Setiawan, yang hadir sebagai narasumber, menangkap langsung keresahan tersebut. Salah satu suara yang mengemuka datang dari Siti Rifaah, yang menilai penggunaan media sosial tanpa batas dapat berdampak serius terhadap perkembangan anak.
“Ya, sangat setuju saya. Jangan sampai anak-anak itu bebas menggunakan media sosial tanpa batas. Nanti akan berdampak pada pendidikan mereka. Waktu belajar bisa terbuang karena penggunaan media sosial yang berlebihan, dan itu bisa memengaruhi perkembangan mereka,” tegasnya.
Sebagai pendidik yang menangani puluhan siswa, Siti menilai teknologi memang tidak bisa dihindari. Namun, penggunaannya harus diarahkan secara bijak dan disertai pembatasan sejak dini.
“Kalau sejak dini dibatasi, anak tidak akan menggunakan waktunya dengan sia-sia. Justru mereka bisa memanfaatkan masa belajarnya dengan sebaik-baiknya,” lanjutnya.
Ia juga menyoroti fenomena anak-anak yang sudah terbiasa menggunakan gawai sejak usia sangat muda. Meski demikian, ia tidak menolak penggunaan perangkat tersebut sepenuhnya, selama dimanfaatkan untuk hal-hal yang edukatif.
“Kami sering menyampaikan ke anak-anak dan juga ke orang tua, bahwa boleh menggunakan HP, tapi harus yang bermanfaat dan mengandung nilai pendidikan. Misalnya untuk belajar, seperti berhitung, membaca, atau belajar bahasa Inggris,” jelasnya.
Menanggapi hal tersebut, Hadi Setiawan menilai media sosial sebagai pisau bermata dua. Di satu sisi menjadi sarana informasi dan komunikasi, namun di sisi lain berpotensi memberikan dampak negatif jika tidak diawasi.
“Memang media sosial saat ini menjadi pusat informasi sekaligus sarana komunikasi. Namun, banyak juga yang disalahgunakan, sehingga anak-anak menerima informasi yang seharusnya belum layak,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa peran orang tua menjadi kunci utama dalam mengawasi penggunaan gawai pada anak. Menurutnya, kebiasaan lama seperti pembatasan waktu menonton televisi dapat diadaptasi dalam konteks penggunaan ponsel saat ini.
“Peran orang tua menjadi kunci. Misalnya setelah maghrib HP dimatikan, agar anak bisa mengaji, belajar, atau bermain sesuai usianya,” pungkasnya.
Diskusi ini menegaskan bahwa persoalan kecanduan media sosial pada anak bukan lagi isu sepele, melainkan tantangan serius yang membutuhkan sinergi antara sekolah, orang tua, dan pemangku kebijakan.
Kegiatan tersebut juga dihadiri Ketua PWI Kediri Raya, Bambang Iswahyoedhi, yang turut memberikan perhatian terhadap isu pendidikan dan perkembangan generasi muda di tengah pesatnya arus teknologi digital.(*/pty/kur)



