Jagongan Budaya di Jombang, Pegiat Sejarah Doakan Kebangkitan Nusantara di Malam Purnama


Jombang, gelarfakta.com — Sejumlah pegiat budaya dan sejarah dari berbagai daerah di Jawa Timur menggelar jagongan budaya dan doa bersama di Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budoyo, Desa Jatiduwur, Kecamatan Kesamben, Kabupaten Jombang, Jumat (1/5/2026) malam. Kegiatan ini dilaksanakan bertepatan dengan puncak purnama dalam penanggalan Jawa sebagai simbol refleksi dan harapan kebangkitan Nusantara.
Peserta yang hadir berasal dari berbagai daerah, mulai dari Jombang, Trowulan Mojokerto, hingga Kediri. Mereka bersama-sama memanjatkan doa sebagai bentuk ikhtiar spiritual demi kebangkitan bangsa Indonesia di masa mendatang.
Sejumlah narasumber turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Nasrul Ilah (Cak Nas), Arif Yulianto (Cak Arif), Ari Hakim, Supriyadi, Isma Hakim, R.M. Kuswartono, serta tokoh spiritual Ki Budi Sejati. Kehadiran mereka menambah khidmat suasana diskusi budaya yang sarat makna historis dan spiritual.
Kegiatan diawali dengan penampilan Tari Klono oleh anak-anak Desa Jatiduwur, kemudian dilanjutkan dengan Tari Klono Wayang Topeng. Tarian tersebut menjadi simbol refleksi sosok Raja Majapahit, Prabu Hayam Wuruk, yang digambarkan menari dengan topeng berwarna emas sebagai lambang kejayaan masa lalu.
Dalam sesi jagongan budaya, para peserta membahas masa keemasan Nusantara pada era Kerajaan Majapahit di bawah kepemimpinan Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada. Diskusi juga menyinggung peran Ir. Soekarno dalam membawa Indonesia menjadi bangsa yang disegani di kancah internasional.
Pengelola Sanggar Wayang Topeng Tri Purwo Budoyo, Isma Hakim, menyampaikan bahwa kegiatan ini lahir dari refleksi bersama bahwa kebangkitan Nusantara harus diupayakan secara nyata.
“Kami memilih malam puncak purnama sebagai refleksi Prabu Hayam Wuruk menari topeng berwarna emas. Pada masa pemerintahan Prabu Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada inilah masa keemasan Majapahit terjadi,” kata Isma Hakim.
Ia berharap semangat dari para tokoh besar Nusantara dapat menjadi inspirasi bagi generasi saat ini untuk membangun masa depan bangsa yang lebih baik.
Sementara itu, Ari Hakim berharap kegiatan serupa dapat digelar secara berkelanjutan di berbagai daerah sebagai bentuk doa bersama untuk bangsa.
“Untuk bersama-sama, berdoa memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar kebangkitan Nusantara benar-benar segera diberikan kepada Indonesia,” pungkasnya.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang diskusi budaya, tetapi juga menjadi momentum memperkuat kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya menjaga warisan sejarah serta menumbuhkan semangat kebangsaan di tengah dinamika zaman.(*/pty/kur)



