Ekonomi

Usai Lebaran, Kota Kediri Alami Deflasi 0,12 Persen pada April 2026

Kediri, gelarfakta.com – Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Kediri pada April 2026 tercatat mengalami deflasi sebesar 0,12 persen secara bulanan (month-to-month/m-to-m). Kondisi ini terjadi pasca momentum Hari Raya Idulfitri, seiring mulai normalnya permintaan sejumlah komoditas pangan.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri, Emil Wahyudiono, dalam rilis resmi statistik yang digelar secara daring, Senin (4/5/2026). Ia menyebut capaian tersebut lebih rendah dibandingkan Jawa Timur yang mengalami inflasi 0,02 persen dan nasional sebesar 0,13 persen.

Sementara itu, secara tahunan berjalan (year-to-date/y-to-d), inflasi Kota Kediri berada di angka 2,55 persen atau lebih rendah dibandingkan Jawa Timur sebesar 2,85 persen.

Menurut Emil, terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi pergerakan harga selama April 2026. Di antaranya kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi seperti Pertamax Turbo yang naik 18,55 persen, Dexlite 24,62 persen, dan Pertamina Dex 24,18 persen. Kenaikan ini turut berdampak pada tarif angkutan udara akibat meningkatnya harga avtur.

Sebaliknya, tarif angkutan antarkota dan kereta api mengalami penurunan seiring berakhirnya periode mudik Lebaran. Penurunan harga juga terjadi pada sejumlah komoditas pangan seperti daging ayam ras, telur ayam ras, dan daging sapi karena permintaan yang kembali normal.

“Selain itu, emas perhiasan juga mengalami penurunan harga secara global sepanjang April 2026 sebagai dampak kondisi perekonomian global dan konflik geopolitik,” jelas Emil.

Adapun komoditas penyumbang deflasi terbesar di Kota Kediri antara lain daging ayam ras sebesar minus 0,22 persen, emas perhiasan minus 0,19 persen, cabai rawit minus 0,17 persen, serta telur ayam ras minus 0,08 persen. Disusul angkutan antarkota, bawang merah dan putih, hingga daging sapi dan pisang.

Di sisi lain, terdapat komoditas yang menahan laju deflasi, seperti angkutan udara dan nasi dengan lauk yang masing-masing menyumbang inflasi sebesar 0,15 persen. Selain itu, komoditas seperti minyak goreng, kue kering berminyak, serta jasa pemeliharaan juga turut mengalami kenaikan harga.

Memasuki Mei 2026, Emil mengingatkan sejumlah potensi yang perlu diwaspadai, seperti ketersediaan bahan pangan akibat pengaruh cuaca serta meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode libur panjang. Selain itu, dampak kenaikan BBM non-subsidi diperkirakan masih akan berlanjut.

Ia juga memprediksi harga emas masih berpotensi menurun, sementara sektor teknologi seperti laptop dan ponsel berpotensi mengalami kenaikan harga.

“Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan panic buying dan tetap berbelanja secara bijak,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Administrasi Perekonomian yang juga Sekretaris Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Kediri, Bambang Tri Lasmono, menyampaikan bahwa deflasi yang terjadi tidak lepas dari upaya pengendalian inflasi yang dilakukan pemerintah daerah.

“Di Kota Kediri selama bulan April terdapat beberapa komoditas khususnya kelompok volatile food yang mengalami deflasi. Hal ini karena upaya dan strategi yang telah dilaksanakan TPID seperti sidak ketersediaan bahan pangan, pemantauan harga harian, serta koordinasi dengan lintas stakeholder,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).

Ia menambahkan, kenaikan harga makanan jadi dipengaruhi oleh naiknya harga bahan baku plastik yang berdampak pada biaya produksi. Selain itu, potensi inflasi pada Mei juga dipicu oleh meningkatnya aktivitas masyarakat selama libur panjang.

Bambang pun mengimbau masyarakat agar bijak dalam merencanakan perjalanan, termasuk memilih moda transportasi di tengah kenaikan harga BBM non-subsidi.

“Pemerintah terus berupaya menjaga ketersediaan pasokan dan stabilitas harga agar roda perekonomian di Kota Kediri tetap berjalan dengan baik,” pungkasnya.(*/pty/kur)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button