Liga Persik Bekali Orang Tua Pesepakbola Muda Hadapi Transisi Menuju Atlet Profesional


Kediri, gelarfakta.com – Liga Persik 2026 memberikan pembekalan kepada para orang tua pesepakbola muda melalui webinar bertajuk Peran Orang Tua pada Fase Transisi Anak: Dari Atlet Amatir Menuju Profesional, Minggu (21/6/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pembinaan yang tidak hanya menyasar pemain dan pelatih, tetapi juga keluarga sebagai pendukung utama perkembangan atlet muda.
Direktur Persik Kediri, Souraiya Farina, mengatakan webinar tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan Liga Persik yang dirancang untuk memperluas wawasan seluruh pihak yang terlibat dalam pembinaan sepak bola usia muda.
“Webinar ini merupakan salah satu bagian dari kegiatan Liga Persik, di mana tidak hanya pemain maupun pelatih yang mendapatkan tambahan ilmu. Liga Persik juga mengajak orang tua untuk berkembang bersama melalui webinar ini, karena di usia 15-17 tahun merupakan usia krusial bagi anak-anak untuk menentukan jalur karier mereka ke depannya,” ujarnya.
Menurut Farina, fase usia 15 hingga 17 tahun menjadi periode penting bagi atlet muda dalam menentukan arah karier menuju jenjang yang lebih tinggi. Karena itu, orang tua perlu memahami kebutuhan dan tantangan yang akan dihadapi anak dalam proses menuju level profesional.
Dalam webinar tersebut, Liga Persik menghadirkan Guntur Cahyo Utomo, Football Academy Manager I.League, sebagai narasumber utama. Guntur menjelaskan bahwa sepak bola tidak hanya berfungsi sebagai olahraga, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter dan pengembangan berbagai aspek kehidupan anak.
“Diharapkan dapat memberikan wawasan kepada orang tua mengenai kebutuhan atau standar seorang atlet profesional dan rintangan apa saja yang dihadapi serta solusinya,” tambah Farina.
Guntur menjelaskan, sepak bola berperan penting dalam mendukung perkembangan fisik anak. Namun, pembinaan harus disesuaikan dengan usia dan tahapan pertumbuhan agar tidak menimbulkan dampak negatif.
“Kenapa anak umur 12 tahun itu belum disarankan untuk latihan beban yang terlalu berat? Karena ada fungsi-fungsi yang belum maksimal di situ, sehingga disarankan tidak latihan yang terlalu berlebihan sesuai tubuh mereka,” jelas Guntur.
Selain aspek fisik, sepak bola juga membantu perkembangan kognitif anak. Dalam permainan, pemain dituntut mampu berpikir cepat, mengambil keputusan, dan memecahkan masalah dalam berbagai situasi pertandingan.
“Bagaimana caranya ketika saya punya bola, bola saya tidak direbut oleh lawan. Ketika lawan punya bola, bagaimana caranya saya dan teman-teman itu bisa kembali menguasai bola. Itu di sepak bola. Sehingga penalaran-penalaran, berpikir secara logis, berpikir secara analitis, itu menjadi sesuatu yang sangat penting. Semakin tinggi otak manusia akan berkembang, sehingga aspek kognitifnya akan semakin berfungsi dengan baik,” terangnya.
Tak hanya itu, aspek sosial dan emosional juga menjadi bagian penting dalam proses pembinaan atlet muda. Melalui kompetisi, anak-anak belajar berinteraksi dengan berbagai karakter, beradaptasi dengan lingkungan baru, serta membangun kemampuan bekerja sama dalam tim.
“Salah satu hal yang penting di kompetisi adalah bertemu dengan lebih banyak orang. Beradaptasi dengan situasi yang baru. Beradaptasi dengan lingkungan-lingkungan sosial. Ketemu dengan orang-orang yang berbeda sehingga mereka harus mengembangkan diri, mengembangkan aspek sosial mereka. Dalam konteks sosial ini akan berkaitan secara langsung secara emosional,” tambah Guntur.
Melalui webinar ini, Liga Persik berharap para orang tua semakin memahami perannya dalam mendampingi anak menghadapi fase transisi menuju atlet profesional, sehingga proses pembinaan dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan.(*/pty/kur)



