Munas X LDII Angkat Tema Ekoteologi, Dorong Peran Ormas Islam Jaga Lingkungan


Jakarta, gelarfakta.com – Lembaga Dakwah Islam Indonesia menggelar kegiatan pembekalan dalam Musyawarah Nasional (Munas) X LDII 2026 dengan mengusung tema “Ekoteologi dalam Praktik: Peran Ormas Islam Membangun Kesadaran Lingkungan Berbasis Nilai Agama”, Rabu (8/4). Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kontribusi organisasi kemasyarakatan Islam terhadap isu lingkungan yang kian mendesak.
Hadir sebagai narasumber, Muchlis Muhammad Hanafi menegaskan bahwa isu lingkungan kini menjadi bagian dari program prioritas pemerintah, termasuk di lingkungan Kementerian Agama.
“Ketika kita berbicara tentang lingkungan dengan bahasa agama, maka pesan itu akan lebih mudah diterima oleh masyarakat. Para tokoh agama, santri, dan pondok pesantren memiliki peran strategis untuk menanamkan kesadaran menjaga alam sebagai bagian dari ibadah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, konsep ekoteologi merupakan upaya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Menurutnya, manusia memiliki tanggung jawab sebagai khalifah di bumi untuk menjaga keseimbangan lingkungan.
“Manusia memiliki peran sebagai khalifah di bumi, yang bertugas menjaga keseimbangan alam. Jangan sampai kita mewariskan bumi dalam kondisi rusak kepada generasi mendatang. Menjaga lingkungan adalah bentuk tanggung jawab moral dan spiritual kita,” tambahnya.
Selain itu, ia juga menyoroti berbagai tantangan global seperti perubahan iklim, pemanasan global, hingga meningkatnya limbah makanan yang dinilai tidak lepas dari perilaku manusia.
“Kerusakan lingkungan bukan semata karena kurangnya sumber daya, tetapi karena perilaku manusia. Oleh karena itu, kesadaran berbasis nilai agama menjadi sangat penting untuk mengubah pola hidup masyarakat,” jelasnya.
Menanggapi hal tersebut, Ketua LDII Kota Kediri, Agung Riyanto, menyambut baik tema ekoteologi sebagai bekal strategis dalam forum Munas.
“Tema ekoteologi ini sangat relevan dengan kondisi saat ini. LDII berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam menjaga lingkungan melalui pendekatan keagamaan, sehingga kesadaran masyarakat dapat tumbuh dari nilai-nilai iman dan takwa,” ungkapnya.
Sementara itu, Sekretaris Pondok Pesantren Wali Barokah, Daud Soleh, menegaskan pentingnya peran pesantren dalam implementasi konsep ekoteologi.
“Pesantren memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter santri yang peduli lingkungan. Melalui pembiasaan dan pendidikan berbasis nilai agama, kami mendorong santri untuk menjaga kebersihan, mengelola lingkungan, dan menerapkan gaya hidup yang ramah lingkungan,” tuturnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir gagasan dan program konkret yang dapat diimplementasikan oleh LDII bersama masyarakat luas dalam menjaga kelestarian lingkungan, sejalan dengan nilai-nilai agama dan semangat pembangunan berkelanjutan.
Di sisi lain, Daud juga menyampaikan harapan agar pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren segera diundangkan dalam Lembaran Negara, guna memperkuat peran pesantren dalam mencetak generasi berkarakter.
“Kami sangat berharap peran strategis Ditjen Pesantren betul-betul bisa hadir dalam mengawal pondok pesantren mencetak generasi penerus dan pendakwah yang berkarakter luhur, serta berkontribusi untuk mengisi pembangunan bangsa dan negara,” pungkasnya.(*/pty/kur)



