OlahragaSeni Budaya

Tradisi Jamasan Merpati Putih Kota Kediri Kenalkan Nilai Filosofi dan Pelestarian Budaya kepada Generasi Muda

Kediri, gelarfakta.com – Perguruan Pencak Silat Beladiri Tangan Kosong (PPS BeTaKo) Merpati Putih Cabang Kota Kediri kembali menggelar tradisi Jamasan yang rutin dilaksanakan setiap bulan Suro. Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (21/6/2026) tersebut diikuti seluruh anggota cabang dari berbagai tingkatan sebagai bagian dari pelestarian tradisi perguruan sekaligus sarana pendidikan karakter bagi anggota muda.

Ketua Cabang PPS BeTaKo Merpati Putih Kota Kediri, Karmiati, menjelaskan bahwa pelaksanaan tradisi Jamasan di Kota Kediri merupakan alternatif bagi anggota yang belum dapat mengikuti Tradisi Nasional Merpati Putih di Pantai Parangkusumo, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi sarana pengenalan awal bagi para anggota, khususnya anak-anak dan anggota muda, terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi Merpati Putih.

“Tradisi ini kami laksanakan setiap bulan Suro sebagai simbol karena belum semua anggota dapat mengikuti Tradisi Nasional di Pantai Parangkusumo. Kegiatan ini lebih kepada pengenalan bagi anak-anak dan anggota muda agar mereka memahami makna tradisi yang ada di Merpati Putih,” ujar Karmiati.

Ia menjelaskan, Tradisi Nasional Merpati Putih di Pantai Parangkusumo memiliki rangkaian kegiatan yang cukup panjang dan minim waktu istirahat. Kegiatan tersebut meliputi tabur bunga di makam Guru Besar, mengantar matahari terbenam, renungan malam di tepi pantai mulai tengah malam, menyongsong matahari terbit, hingga prosesi jamasan.

Karena mempertimbangkan usia dan kesiapan peserta muda, Cabang Kota Kediri memilih menyelenggarakan tradisi lokal yang berfokus pada prosesi jamasan beserta pemahaman filosofinya.

Dalam tradisi tersebut, air yang digunakan berasal dari tujuh sumber mata air yang memiliki nilai historis dan spiritual bagi masyarakat Kediri, yakni Prabu Anom, Tirta Kamandanu, Setonogedong, Syekh Abdullah Mursyad, Pondok Jampes, Goa Maria, serta Pamuksan Sri Aji Jayabaya.

Air dari ketujuh sumber tersebut kemudian dicampur dan dibagi ke dalam tiga gentong yang masing-masing memiliki makna tersendiri.

Karmiati menjelaskan, air bersih melambangkan manusia yang lahir dalam keadaan suci dan bersih. Air yang dicampur sekam bakar menggambarkan perjalanan hidup manusia yang tidak lepas dari kesalahan dan dosa. Sementara air bunga melambangkan proses penyucian jasad manusia saat meninggal dunia sebelum menghadap Sang Pencipta.

Selain itu, terdapat air yang diminum oleh peserta sebagai simbol bahwa penyucian tidak hanya dilakukan secara lahiriah, tetapi juga harus berasal dari dalam diri.

“Melalui tradisi ini kami ingin mengenalkan bahwa kesucian bukan hanya dari raga, tetapi juga dari hati dan perilaku. Filosofi tersebut menjadi bagian penting dalam pendidikan karakter anggota Merpati Putih,” katanya.

Melalui kegiatan Jamasan tersebut, PPS BeTaKo Merpati Putih Cabang Kota Kediri berharap anggota, khususnya generasi muda, dapat memahami nilai-nilai luhur yang diwariskan perguruan sekaligus menjaga tradisi yang telah menjadi bagian dari perjalanan organisasi.(*/pty/kur)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button